Kinanthi Anggraini – 22 Desember 2013

Posted: May 6, 2014 in Uncategorized

Lesung
: Farah Maulida

Menyemai waktu
kala itu kau masih menimang dedak dan lagu
berjaga antara pagi dan senja
menjejak bekas debu bertabur senyum dan doa
tak ada yang lebih kukenal darimu, Alu
tumbukan demi tumbukan di sela jalannya umurku
mengenal sejak dalam rahim nangka umur sewindu
mencipta kilau beras untuk ribuan tungku
kerap kali hentakan itu mendarat di tubuhku
karena begitulah cara kita bertemu
sekalipun selalu diartikan sebagai pedih dan pilu
namun bagiku itulah tulus penjagaanmu
menyaksikan bulir-bulir beras beriringan diangkat
di dalam celah lalu diobori dengan panas yang hebat
seperti langit biru telah berubah menjadi kelabu
pertanda malam menahan hentakan satu demi satu
dan selalu kusembunyikan butiran air bernama sendu
agar kau tahu; satu adalah segalanya bagiku
ketika dahan mulai melepaskan ikat
kala itulah serat kayu mulai tak merekat
bersebab pukulan yang kerap kali mendarat
oleh usia dan tenaga yang teramat dahsyat
namun tak sekalipun keyakinanku sekarat
sekalipun kau harus diangkat, dari lengan yang teramat kuat
lihatlah lubang ini yang bertahun-tahun terbelenggu
tanda keyakinan yang tak pernah sekalipun ragu
oleh kain usang dan tali tambang berwarna biru
bertali simpul, berlingkar tiga kali di perutku
agar tak lekas harapanku merebah
sekalipun ragaku musnah

Peci Putih yang Merindukan Sujudmu
: untuk Bapak

sehelai benang emas melingkar di punggungku, tuan
berbalut lapisan warna putih semburat kecoklatan
sesekali kakiku basah oleh kucur air yang kau percikkan
melingkar erat di kepala, begitu caramu mengenakan
barangkali aku hanya berteman dengan ingatan
bersama untaian doa yang selalu kudengarkan
guratan dahi yang tertahan oleh sujud yang pelan
hingga kesabaran menahan amarah dan keinginan
aku adalah saksi dari air mata yang kerap berlinang
saat sepertiga malam mulai menjelang
memastikan anak istrimu bermukim di jalan terang
sampai aku terjebak diantara kaki yang lalu-lalang
telapak telanjang bersanding bendera setengah tiang
aku ingat sekali, tuanku
keningmu berkerut saat menyikat tubuhku
bersama senyum syahdu, yang kini kurindu
tatkala bermunculan bercak tipis berdebu
kini gejolak semakin menawar untuk bersekutu
tatkala kabar tak jua kudengar lagi tentangmu
walau begitu, aku akan tetap berada di tempatku
bersanding di sebelah kiri, di pinggir sajadah biru
aku tak percaya kau setega itu, tuan
seumur hidupku tak pernah diabaikan demikian
sampai paman tasbih perlahan menjelaskan
lama sudah bulirnya tak lagi tersentuh tangan
sedangkan bajumu tak kulihat lagi selama sepekan
baju bercorak tenun ikat yang biasa kau kenakan
aku merindumu, tuanku
menunggu tanpa tahu keberadaanmu

Agustus 2013

Kinanthi Anggraini, lahir di Magetan, 17 Januari 1990. Menulis artikel, reportase dan puisi. Karyanya pernah dimuat di beberapa media massa. Aktif bergiat di Komunitas Sastra Pawon.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s